Calon Tumbal Suku Aztek Berlimpah karena Mereka Dipuja Bak Dewa

Suku Aztek dalam setiap peperangan selalu didahului dengan sesembahan tumbal manusia kepada dewa perang. Beratus tahun kepercayaan ini hidup dan menjadi keyakinan seluruh rakyatnya.

Namun dalam prakteknya, ritual tumbal ini tidak sedramatis seperti yang diperkirakan. Para calon tumbal antri mengharap dirinya terpilih sebagai tumbal. Berbagai fasilitas mewah, disediakan wanita cantik, hingga disembah bak dewa menjadi salah satu pemikatnya. Calon tumbal hidup sebagai warga kelas satu dan mendapat perlakuan khusus.

‚ÄčTumbal Spesial Yang Diperlakukan Layaknya Dewa

Menjadi tumbal merupakan sesuatu yang mengerikan. Karena membayangkan hidup kita segera akan berakhir, pasti akan membuat kita teringat akan hal-hal yang belum dan sangat ingin kita lakukan selagi masih hidup.

Namun hal itu tak berlaku bagi calon tumbal dalam festival Toxcatl yang dilakukan oleh bangsa Aztek. Karena calon tumbal ini akan diperlakukan layaknya seorang dewa. Ia akan diberikan segala kemewahan dunia dan didandani layaknya dewa Tezcatlipoca. Kulit dari calon tumbal ini akan dicat hitam dan di pakaikan mahkota dari bunga dan juga banyak sekali perhiasan yang dipercaya mirip dengan wujud dewa Tezcatlipoca. Tak hanya sampai disitu Ia juga akan diberikan 4 orang Istri cantik untuk memuaskannya.

Tapi untuk menjadi tumbal dalam festival Toxcatl, tidaklah mudah karena terdapat kriteria khusus diantaranya orang tersebut harus memiliki kulit yang mulus dan halus, serta rambut panjangyang lurus.

Jika terpilih maka yang perlu ia lakukan adalah berkeliling kota sambil meniup seruling dan dipuja layaknya dewa oleh masyarakat.

Hal ini akan berlaku selama 12 bulan, setelah itu pada bulan Toxcatl, tumbal ini akan menaiki altar yang ada di puncak kuil suku Aztek dan mematahkan seruling miliknya. Setelah itu seorang pendeta akan membantunya berbaring di sebuah altar batu sebelum akhirnya merobek dada tumbal tersebut dan mengeluarkan jantungnya.

Setelah upacara pengorbana ini selesai, maka biasanya mereka akan segera memilih tumbal untuk festival Toxcatl tahun depan, dengan banyak sekali peminat yang mendaftar.

Tumbal Bisa Dibatalkan Dengan Duel Ala Gladiator

Dalam sebuah festival yang di sebut festival Tlacaxipehualiztli atau festival manusia terbang. Sebuah ritual pengorbanan manusia yang ditujukan untuk memuja salah satu dewa bangsa Aztek yang bernama Xipe Totec, atau dewa langit.

loading...

Seorang tumbal yang dipilih boleh membatalkan penumbalan dirinya dengan sebuah duel maut melawan para prajurit terkuat Aztek di atas sebuah panggung batu berbentuk lingkaran yang bernama temalacatl.

Tumbal ini akan diberi sebuah pedang kecil sebagai senjata untuk mempertahankan hidupnya melawan delapan orang prajurit Aztek terbaik yang dilengkapi dengan senjata lengkap. Jika ia berhasil maka tumbal ini akan diperkenankan untuk tetap hidup, tapi dengan beratnya persyaratan yang ada nyaris tak pernah ada yang selamat. Sejarah bangsa Aztek hanya pernah mencacat satu orang bernama Tlahuicol yang berhasil selamat setelah membantai habis seluruh lawannya.

Keberhasilan Tlahuicol, ini juga konon membuat para petinggi Aztek terkesima dan menawarinya menjai panglima perang. Namun anehnya Tlahuicol, justru menolak mentah-mentah tawaran ini dan menganggapnya sebagai penghinaan.

Konon Tlahuicol akhirnya tetap memilih untuk dikorbankan pada dewa karena menganggap hal tersebut sebagai kehormatan tertinggi yang bisa ia dapatkan. Padahal ritual pengorbanan dalan festival Tlacaxipehualiztli sendiri tergolong mengerikan, karena para tumbal dalam festival ini akan dikuliti hidup-hidup.

Kulit mereka inilah yang kemudian akan dipersembahkan pada dewa Xipe Totec, setelah sebelumnya dicelupkan dalam cairan emas. Sedangkan dagingnya akan diperebutkan oleh para remaja Aztek yang menganggap daging dari tumbal festival Tlacaxipehualiztli dapat membuat tubuh mereka menjadi kuat karena telah diberkahi oleh dewa.

Wajib Mengorbankan Pada Dewa
Hal ini mungkin merupakan sisi paling mengerikan dari ritual tumbal manusia dari suku Aztek. Tepat di jantung ibukota Aztec, Tenochtitlan, terdapat sebuah kuil kembar yang merupakan kuil untuk dewa petir Tlaloc.

Dewa Tlaloc sendiri dalam mitologo bangsa Aztek merupakan dewa yang bertanggung jawab atas datangnya hujan. Sayangnya hujan ini tak akan diturunkan Tlaloc dengan gratis, karena dewa ini menuntut tumbal anak-anak sebagai ganti hujan yang ia turunkan.

Karena itu setiap akhir musim dingin bangsa Aztek biasanya akan membawa anak-anak mereka menuju kuil dewa Tlaloc. Anak-anak ini akan dipaksa naik ke puncak altar tanpa tahu apa-apa. Bangsa Aztek percaya jika anak-anak mereka menagis saat dikorbankan, maka dewa Tlaloc akan mengganti air mata itu dengan air hujan. Jadi jika anak-anak ini tak menangis saat akan dikorbankan, mereka akan sebisa mungkin menyiksa anak-anak ini hingga menangis.

Tak cukup sampai disitu, mayat dari anak-anak ini kemudian akan di bawa ke sebuah altar khusus di pinggir kota dan dibiarkan disitu hingga membusuk dan secara perlahan hilang dengan sendiri akibat terkena panas dan hujan. Sadis bukan?

Tapi selain itu bangsa Aztek juga masih memiliki kepercayaan lain tentang penumbalan anak. Hal ini khususnya berlaku untuk anak kembar, bangsa Aztek percaya bahwa anak kembar merupakan sumber malapetaka. Hal ini erat hubungannya dengan salah satu kisah dewa mereka Xolotl yang pernah bertarung dengan Iblis Kembar.

Karena itu orang Aztek percaya jika anak kembar akan membawa kematian bagi orang tuanya, karena itu saat sebuah keluarga di Aztek memiliki anak kembar biasanya mereka akan mengorbankan salah satunya pada dewa Xolotl, untuk menghindari datangnya musibah.

Itulah beberapa fakta unik tentang ritual tumbal manusia dari bangsa Aztek. Sebagian besar ritual pengorbanan manusia ini tentu tak dapat diterima oleh akal sehat saat ini. Namun hal itu tentu tak berlaku bagi bangsa Aztek yang konon hidup ratusan juta tahun lalu, dimana peradaban masihlah sangat primitif dan nyawa manusia bukanlah hal terlalu berharga. Jadi semua ini hanya bagian dari sejarah yang bisa kita petik sebagai pembelajaran.

Facebook Comments

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Komentar Anda