Tawa Malaikat di Mesjid

Pengusiran dan penghardikan anak-anak di mesjid menjadi pemandangan biasa di Indonesia. Mata-mata tajam dan kata-kata kasar keluar dari pengurus mesjid atau jamaah menjadi santapan sehari-hari anak-anak kecil yang hadir dalam shalat berjamaah. Anak-anak dianggap mengganggu jamaah dan menyebabkan kekhusukan shalat rusak. Konyolnya; suara candaan, tawa riang, bahkan lari kesana-kemari anak-anak sering dianggap tanda hadirnya setan.

Benarkah anggapan itu?

Anak-anak tersebut biasanya hadir dalam jamaah shalat di mesjid karena perintah orang tuanya. Pun karena keinginan mereka bertemu dengan teman-teman sebayanya. Jadilah mesjid menjadi tempat senda gurau anak-anak kita.

Kecamuk antara wajah orangtua di rumah yang menghalaunya ke mesjid dan wajah seram pengurus mesjid yang mengusirnya, seolah merengut kebahagiaan masa kecilnya.

Jika anak-anak muslim berlari, riang, tawa, di mesjid itu lah ciri khas anak-anak. Tetapi kalau yang berlari dan tertawa itu orangtua baru layak di usir.

Namanya anak-anak. Kesukaannya bermain. Kebahagiaan mereka adalah pada saat bermain. Mereka senang bermain di mana saja. Bahkan pada saat mereka ke masjid. Akhirnya ada pengurus masjid yang keberatan dengan kedatangan anak-anak ke masjid. Bahkan beberapa masjid memasang pengumuman tentang larangan anak-anak ke masjid. “Anak-anak dilarang ke masjid”. Begitu tulisan pengumuman itu. Anak-anak dianggap hanya membuat gaduh dan mengganggu kekhusyukan jamaah shalat.

Ketika ada anak yang datang ke masjid, pengurus sudah memberikan peringatan atau ancaman agar tidak ribut di masjid. Kepada anak-anak yang ribut, pengurus tidak segan-segan menghardik, membentak, atau menghukum anak-anak. Ada pula alasan lain melarang anak-anak ke masjid karena mereka dianggap belum baligh (dewasa). Mereka belum wajib untuk salat jamaah di masjid.

Mereka sebenarnya “malaikat” yang sedang bergembira di rumah Robb-Nya. Bahkan Cucu kesayangan manusia paling mulia di muka bumi ini, Hasan dan Husein pernah menaiki tubuh Rasulullah saat mengimami sholat para sahabat.

Rasulullah sujud begitu lama, hingga ada sahabat yang bertanya “Mengapa lama sekali sujudmu ya Rasulullah?” Rasul menjawab “Tadi Hasan dan Husein naik di tubuhku, aku khawatir kalau aku bangkit mereka terjatuh, ku biarkan mereka puas bermain.”

Dalam riawayat yang lain Rasulullah mempercepat sholatnya karena ada tangis anak kecil yang memanggil ibunya yang sedang ikut berjama’ah bersama Rasulullah. Itulah mesjid Nabi yang tak sepi dari anak-anak kecil.

Lalu mesjid apa yang anti dengan anak-anak kecil? Layaklah para pengurus masjid diberi pemahaman yang utuh tentang mesjid sebagai pusat peradaban Islam.

Muhammad Al Fatih penakluk Konstantinopel pernah berkata, “Jika kalian tidak lagi mendengar riang tawa dan gelak bahagia anak-anak di masjid-masjid, waspadalah. Saat itu kalian dalam bahaya.”

 

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar Anda